Sunday, October 04, 2009

A Murtad's Tale, in Bahasa Melayu

A 'murtad' is a person who has left and/or rejected Islam.  The penalty for such a crime, under the barbarity that passes as Islamic law is, of course, death.  Our own 'Avenging Apostate' is one such person.



Here is another story of an apostate's journey out of Islam.  This one is different because it has been translated into the Malay language.  Also, it had been posted on on a website that the Malaysian government does not want Malaysians to read.  Why is the Malaysian government so afraid as to block this site, after making strenuous promises to the contrary, that no sites would ever be blocked in Malaysia?


I invite our Malay readers to read the following and see what their own government forbids them to see (the English translation of this tale is here).

MURTAD DI SAUDI

Ini adalah kisahku sebagai murtadin dari Saudi. Kuharap kisahku dapat memberi bimbingan kepada Muslim lain yang sedang berpikir untuk meninggalkan Islam. Sebelum kumulai, aku ingin menyatakan bahwa di hari aku meninggalkan Islam aku merasa lahir kembali. Aku merasa bagaikan orang yang baru, yang lebih baik, lebih cerdas, lebih berakal sehat dibandingkan aku yang dulu. Dulu aku bagaikan seekor domba yang membuta saja mengikuti ajaran2 yang sadistik, kejam, semburit dan tidak masuk akal. Aku dulu bahkan percaya ajaran2 itu baik dan penuh damai. Tapi sekarang mataku telah terbuka dan bisa melihat bagaimana ajaran2 ini sebenarnya. Aku berharap hal yang sama juga terjadi bagi semua saudara2 laki dan perempuan yang masih terjebak dalam kungkungan Islam.

Aku beruntung karena aku lahir dari orangtua Saudi yang berpengaruh dan dapat dibilang liberal meskipun mereka Muslim, tapi bukan Muslim yang fanatik. Aku berpendidikan di Amerika Serikat dan disinilah pertama kali aku mengenal agama2 lain dan untuk pertama kalinya mulai meragukan agama Islam. Keraguanku dikarenakan aku membandingkan kehidupan Muhammad yang penuh kekerasan, peperangan, nafsu seksual dengan kehidupan Yesus Kristus yang suci dan saleh (aku tidak tahu apakah kisah ini benar atau tidak, tapi setidaknya begitulah yang kubaca tentang Yesus). Aku banyak bertanya kepada imamku di Boston yang mencelaku karena berani mempertanyakan ajaran2 dalam Qur’an. Muhammad boleh berhubungan seksual dengan siapapun yang dikehendakinya karena dia adalah Muhammad. Pembunuhan atas para Yahudi di Arabia adalah benar karena Muhammad mengatakannya begitu. Muhammad menyelematkan kita dari penyembahan berhala, tapi lalu mengapa kita harus jalan berputar-putar mengelilingi sebuah batu hitam yang dikerudungi handuk renang? Tiada satupun pertanyaanku yang dapat dijawab baik oleh imam itu ataupun siapa saja.

Aku cenderung meninggalkan kepercayaanku tapi saat yang paling menentukan terjadi setelah peristiwa 9/11. Sebagai warga Saudi di AS, aku ketakutan setengah mati. Aku menunggu massa mengamuk mendobrak pintuku dan mencabik-cabikku. Ketakutanku wajar dilihat sebagai seorang Muslim. Jika Mekah atau Medinah diserang oleh seorang Amerika, maka kuyakin nasib seperti itulah yang akan dialami orang2 Barat yang tinggal di Saudi Arabia. Sikap menjaga diri, sensitif terhadap perasaan orang lain, kesalehan ‘kristiani’ (meskipun aku lebih memilih menyebutnya sebagai sikap manusiawi) yang ditunjukkan masyarakat Amerika sungguh menyentuh hatiku. Aku tidak pernah diperlakukan dengan buruk atau disakiti. Kawan2 Amerikaku tidak pernah mencurigai sikapku yang terang2an menunjukkan rasa muak terhadap apa yang dilakukan warga negaraku. (Adadeh: teroris 9/11 semuanya berasal dari Saudi Arabia). Kusadari bahwa sikap sayang dan belas kasihan terhadap sesama ini jelas tidak mungkin terjadi dalam Islam dan karenanya aku tidak mau jadi Muslim lagi. Kehidupanku setelah itu menjadi indah. Kubuka wawasanku terhadap begitu banyak ideologi dan filosofi, dan bisa kukatakan bahwa hampir semuanya jauh lebih manusiawi dan masuk akal dibandingkan Islam.

Apakah aku merasa bodoh karena telah memuja pedofil haus kekerasan ini begitu lama?

Ya, aku merasa bodoh, tapi kuhibur diriku dengan kenyataan bahwa hal itu bukanlah salahku dan aku punya kekuatan dalam diriku untuk melepaskan diri dari cengkeramannya. Tak lama kemudian aku kembali ke Saudi Arabia dan ayahku heran mengapa aku tidak lagi sembahyang dan menemaninya pergi ke mesjid. Apakah Amerika telah membuatku jadi orang tak bertuhan? Tidak, kukatakan padanya. Amerika telah membuatku sadar dan sekarang terdapat tuhan dan spiritualitas dan kebaikan dalam hatiku yang dulu tidak ada. Ayah sedih dengan penolakanku dan dia menangis (harus kutekankan di sini bahwa ayahku adalah orang yang baik, karena kebanyakan para ayah Saudi akan mengusir anak2 mereka dan bahkan memenjarakan dan menyiksa anak2 mereka jika berani meninggalkan Islam) tapi dia pikir aku nantinya akan kembali memeluk Islam. Aku tidak pernah menjadi Muslim lagi dan tiga tahun telah berlalu sejak pertama kali aku menyatakan kemurtadanku padanya. Aku telah pindah ke Dubai di mana aku bisa hidup bebas dan jauh dari cengkraman Islam Wahhabi (meskipun Dubai masih tetap di bawah pengaruh kuat Islam) dan ayahku. Aku tidak pernah lagi membicarakan kemurtadanku.

Dua minggu yang lalu aku kembali ke Saudi Arabia untuk menengok keluargaku. Ayahku memanggilku masuk ke kamarnya dan dengan muka sedih dia meminta maaf padaku. “Karena apa?” tanyaku. “Karena mempertanyakan dirimu dan berdoa agar kau kembali memeluk Islam,“ katanya. Dia menerangkan bahwa sejak dia pensiun, dia mulai membaca Qur’an setiap hari dan buku2 agama Islam lainnya. Apa yang tercantum membuatnya ngeri dan akhirnya dia meninggalkan Islam. Dia mendapatkan ketenangan dari ajaran2 Yesus yang dia percayai sebagai nabi sejati, tidak seperti Muhammad. Dia memintaku untuk menerima Yesus sebagai Juru Selamatku tapi kukatakan padanya bahwa saat ini aku baik2 saja tanpa diriNya. Kami punya banyak kesamaan dalam alasan2 murtad dan dapat kukatakan bahwa sejak itu kehidupan kami berubah jadi lebih baik.

Bagi para Muslim yang masih terjebak, aku tahu bahwa menghina Islam hanyalah membuat kalian malah memeluk Islam lebih erat lagi, jadi aku hanya ingin kalian melakukan satu hal saja. Baca! Bacalah Qur’an, bacalah ajarannya, bacalah tentang nafsu seksualnya dan kisah2 perangnya. Lalu ambilah keputusan sendiri, sebagai manusia berakal sehat yang hidup di abad 21, setelah tahu semua hal tentang Muhammad, apakah kalian yakin orang ini benar2 seorang nabi yang menunjukkan jalan ke surga? Kupikir kalian nantinya akan mengambil kesimpulan yang sama seperti diriku.

No comments: